>

Blog yang Memotivasi Anda

Hot

Suatu saat seorang guru berusaha untuk menjelaskan kepada sekelompok orang bagaimana orang-orang bereaksi terhadap kata-kata, menelan kata-kata, hidup dalam kata-kata, ketimbang dalam realitas.

Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan protes, dia berkata, “Saya tidak setuju dengan pendapat anda bahwa kata-kata mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita.”
Guru itu berkata,” Duduklah, anak haram!!!.”

Muka orang itu menjadi pucat karena marah dan berkata,” Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah mengalami pencerahan, seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi seharusnya Anda malu dengan diri Anda sendiri.”

Kemudian Guru itu berkata, “Maafkan saya, saya terbawa perasaan. Saya benar-benar mohon maaf, itu benar-benar di luar kesadaran saya, saya mohon maaf.” Orang itu akhirnya menjadi tenang.

Kemudian Guru berkata lagi,”hanya diperlukan beberapa kata untuk membangkitkan kemarahan dalam diri anda; dan hanya diperlukan beberapa kata untuk menenangkan diri anda, benar bukan?”
Pilihlah selalu kata-kata positif dipikiran, dihati dan ucapan anda. Kata-kata mempengaruhi diri anda dan juga orang lain.
Kata-kata yang ada dalam pikiran dan hati anda juga menentukan masa depan dan sukses anda.





Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yang berasal dari darah yang terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.
Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yang menyampaikan: 
"Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yang buruk seperti ini??"
Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis, 
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional, 
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen, 
Lima ribu mencapai Grand Slam, 
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"
Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"


Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air dengan ember & menyikat lantai rumahnya keras-keras.
Pria itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya MERASA menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Saudaraku.....,
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat pertama,
Sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua,
Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga,
Sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik....,
Semakin tinggi tingkat kesombongan, Semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Cobalah setiap hari, kita memeriksa batin kita.
Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang dalam.


Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu dia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya", ujar pak tua
"Pahit, pahit sekali", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga.
Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah."

Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

"Bagaimana rasanya ?"
"Segar", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua
"Tidak", sahut pemuda itu

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

"Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, tergantung dari luas tidaknya hati/perasaan kita.

Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan, maka LAPANGKANLAH DADAMU menerima semuanya itu, LUASKANLAH HATIMU untuk menampung setiap kepahitan itu".
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:


"Hatimu adalah wadah itu; Perasaanmu adalah tempat itu; Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas;

Buatlah hatimu laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu;
Sehingga kepahitan itu menjadi tidak terasa dan tidak mempengaruhi kesegaran dan kedamaian hatimu".

Anak muda, belajarlah menerima kenyataan; Berlatihlah menerima kenyataan; Berlatihlah untuk ikhlas serta mensyukuri setiap kenyataan. Karena itulah yang terbaik bagimu. Dan latihan itu akan semakin memperluas daya tampung hatimu. Kalau kamu mau dan berusaha melatihnya terus-menerus, maka hatimu akan benar-benar seluas telaga. Dan kamu tidak pernah merasakan kepahitan lagi, apa pun keadaan dan masalahmu, hatimu akan tetap segar, damai, dan bahagia".


Dari Hari Budianto, Cibinong, Bogor.



Seorang sales asuransi yang bekerjasama dengan W Clement stone dan orang tersebut sudah selama 5 tahun berjualan di Sioux City, Iowa. Dan selama 5 tahun pula dia gagal jualan disana dan dia beranggapan karena daerah tersebut kebanyakan dari keturunan Belanda dan dia menganggap orang Belanda tersebut tidak percaya dengan orang diluar Belanda dan tidak akan mau membeli dari mereka. Ini yang dinamakan Negative Mental Attitude. Sales tersebut sudah punya keyakinan akan gagal sebelum jualan dan itu yang terjadi.
Akhirnya W Clement Stone penasaran dan akan mencoba membuktikan bahwa pemikiran itu salah. Lalu sepanjang perjalanan menuju Sioux Center, Iowa W Clement Stone melakukan visualisasi dan memasukan kata-kata affirmasi yang mengatakan "wah bagus, kalau mereka percaya sama orang yang satu suku dengan mereka berarti saya harus mencari orang yang tepat untuk dijual sehingga mereka menjadi percaya seluruhnya dan membeli dari kita. Dan dia terus
berdoa dan mengimani bahwa mereka pasti membeli dan terus berdoa Tuhan bantu saya dalam penjualan ini dan terus melakukan affirmasi berulang-ulang lalu akhirnya tertidur.
Setelah sampai disana, beliau akhirnya masuk ke sebuah bank dan memprospek kepala cabang Bank tersebut dan menariknya orang tersebut menandatangani kontrak pembelian tersebut begitu juga dengan karyawannya. Hanya satu orang saja yang tidak membeli di Bank tersebut. Lalu dia keliling ke pusat kota dan lagi-lagi orang pada membelinya. Wow, beliau langsung bersyukur kepada Tuhan bahwa doanya terkabul dan apa yang dia yakini ternyata berhasil. Ini yang disebut Positive Mental Attitude. Beliau hanya melakukan affirmasi, visualisasi dan berdoa untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ya betul, sales tersebut juga melakukan hal yang sama tetapi untuk membuktikan bahwa dia gagal, ini yang disebut Negative Mental attitude.

Kembali lagi kepada diri sendiri, apa yang anda mau percayai maka itu yang akan anda terima. Bagaimana dengan anda?
Cashflow Quadrant digunakan untuk mengukur sukses tidaknya seseorang secara MENTAL, bukan dari profesinya.

Cashflow Quadrant mengelompokan mental orang ke dalam 4 kuadran yaitu (lihat gambar):
1. Mental E = Employee.
2. Mental S  = Self Employed.
3. Mental B = Business owner.
4. Mental I = Investor.
Di bawah sendiri diberikan penjelasan apa dan bagaimana mental E, S, B, dan I tsb.

Mental entrepreneur ada di sisi kanan, yaitu mental B atau I.
Mereka yang memiliki mental di kuadran KIRI (S atau E) akan kurang sukses, sedangkan yang memiliki mental di kuadran kanan (B atau I) akan sukses, apapun profesinya.

Cashflow Quadrant pertama kali diperkenalkan oleh Robert T. Kiyosaki.
Kalau kita tidak membaca secara lengkap seluruh buku-buku Robert T. Kiyosaki, juga tidak membaca berbagai referensi lainnya. Maka kita akan terjebak dalam pemahaman yang tidak tepat, sehingga beranggapan bahwa kuadran itu mengenai PROFESI seseorang.
Misalkan profesi Dokter, Pengacara, Notaris, Musisi, Pelukis, dsb, dianggap berada di Kuadran “S” (Self Employed), padahal tidak demikian. Penggambaran profesi itu hanya untuk memudahkan pemahaman awal dari pembacanya.

Pemahaman sesungguhnya adalah, bila seorang pengacara atau dokter tsb memiliki MENTAL “S” (Self Employee), maka pengacara/dokter itu akan lebih sukses dibandingkan pengacara/dokter yang memiliki mental “E” (Employee).
Kalau pengacara/dokter itu memiliki mental “B” akan lebih sukses lagi, dan pasti akan sangat sukses bila memiliki mental tertinggi yaitu mental “I”.

Jadi yang dimaksud E, S, B, I itu adalah MENTAL-nya bukan PROFESI-nya.

Contoh mudahnya adalah “Tanri Abeng”, beliau selama ini jelas-jelas sebagai pekerja/karyawan, namun beliau memiliki mental “I” (Investor). Maka tentu saja beliau sukses luar biasa.

Contoh lainnya : “Sri Mulyani”, beliau sekarang khan karyawannya Bank Dunia (jabatannya Kepala Eksekutif II). Namun beliau memiliki mental “I”, tentu saja sangat sukses.

Contoh lain lagi : “Penjual bakso keliling”, dia seorang wiraswasta. Namun kalau mentalnya adalah mental “E” (Employee), maka usaha baksonya sulit untuk berkembang, dan akan tetap seperti itu, yaitu sebagai penjual bakso keliling. Jika berusaha meningkatkan mentalnya menjadi mental “S” (Self Employed), maka usaha baksonya bisa berkembang walaupun perkembangannya lambat, sehingga pelanggannya banyak, omsetnya bertambah.
Jika dia berusaha keras meningkatkan mentalnya sehingga memiliki mental “B” (Business Owner), maka usaha baksonya akan berkembang dengan cepat dan mampu membuka lapangan kerja, mampu membentuk tim, mampu mensejahterakan banyak orang, dstnya. Dia akan memiliki beberapa restoran bakso, juga banyak unit bakso keliling, dstnya.

Yang terpenting adalah mentalnya bukan profesinya.
Apapun profesi anda, tingkatkan mental anda.
Apakah anda sebagai karyawan, atau sedang wiraswasta, atau berprofesi pengacara, notaris, dokter, dsb, tingkatkan mental anda.

Berusaha keraslah melatih diri agar mental anda meningkat, yang mula-mula bermental E, meningkat menjadi bermental S, kemudian B, dan akhirnya bermental paling tinggi yaitu I.

Semakin meningkat mental anda, apapun profesinya, maka otomatis akan semakin sukses.

Kalau anda masih memiliki mental “E” atau “S”, maka apapun profesi anda, tentu tidak begitu sukses.

Namun kalau anda sudah memiliki mental “B” atau “I”, maka apapun profesi anda, tentu otomatis sukses. Kalau anda berwiraswasta, maka anda menjadi wiraswastawan yang sukses. Kalau anda seorang karyawan, maka pasti anda karyawan yang sukses, karena memiliki mental “B” atau “I”.

Jadi berusaha keraslah meningkatkan diri dengan menambah pengetahuan, pengalaman, dan melatih diri, sehingga mentalnya meningkat dan berada di kuadran “Kanan (B atau I)”.

Semoga bermanfaat.

Tambahan :

Menanggapi beberapa komentar, disini perlu dijelaskan seperti apa mental E, S, B, I itu, sbb :

Mental E (Employee) :
§  Enggan meningkatkan diri
§  Tidak mampu menunda kenyamanan.
§  Menunggu disuruh
§  Kurang Inisiatif
§  Berusaha bekerja cerdas saja alias malas
§  Kalau menjadi atasan, cenderung ngebos (tidak me-manage)
§  Cenderung memikirkan dirinya sendiri
§  dsb

Mental S (Self Employed) :
§  Setingkat lebih baik dibandingkan mental E.
§  Mampu menunda kenyamanan.
§  Berusaha meningkatkan diri.
§  Berusaha berinisiatif.
§  Berusaha bekerja keras dan cerdas.
§  Mampu bekerja mandiri, namun sulit bekerja dalam tim.
§  Tidak mampu mendelegasikan pekerjaan.
§  Kalau menjadi atasan, kurang mampu mengelola dan tidak mampu mengajari/mendidik bawahannya sehingga berakibat tidak tercipta kerja tim yang bersinergi.
§  Cenderung memikirkan kesuksesan dirinya sendiri.
§  dsb

Mental B (Business owner) :
§  Setingkat lebih baik dibandingkan S.
§  Mampu menunda kenyamanan.
§  Berusaha keras meningkatkan diri
§  Berusaha keras berinisiatif
§  Berusaha bekerja keras dan cerdas
§  Mampu bekerja mandiri dan mampu bekerja dalam tim
§  Mampu mendelegasikan pekerjaan (dalam arti segala sesuatunya tetap berjalan dengan baik, walau pun dirinya tidak ada untuk sementara waktu).
§  Kalau menjadi atasan, mampu mengelola dengan baik, dan mampu mengajari/mendidik bawahannya sedemikian rupa sehingga tercipta kerja tim yang bersinergi dan berkembang.
§  Mampu memimpin tim dan mengontrol tim terus-menerus sehingga dapat mencapai sasaran/tujuan timnya.
§  Cenderung memikirkan kesuksesan bawahannya, atasannya, koleganya, timnya, dsb, dibandingkan memikirkan kesuksesan dirinya sendiri.
§  Senantiasa berusaha agar segala sesuatunya tidak bergantung pada dirinya atau pada person/orang, melainkan bergantung pada sistem.
§  Jujur, dermawan, rendah hati, dan amanah (bertanggung jawab)..
§  dsb

Mental I (Investor) :
§  Setingkat lebih baik dibandingkan B.
§  Semua yang ada di B juga ada pada I, ditambah dengan mampu menciptakan/membentuk sistem (software, hardware, dan humanware) sedemikian rupa sehingga sistem tersebut dapat berjalan dan berkembang sendiri.
Berusaha dan berlatihlah sedemikian rupa sehingga minimal memiliki mental B. Karena, begitu kita memiliki mental B, otomatis kita akan sukses, apa pun pekerjaan kita, apa pun profesi kita.

Semoga bermanfaat.



Referensi artikel ini adalah buku berjudul “MOTISAKTI, motivasi yang bikin kamu sakti”ditulis oleh Zen el-Fuad, Motivator Sinergi Semesta. Di depan buku itu tertulis kata-kata bijak begini :  “Tetaplah bergerak, sebab di balik frustasi ada prestasi, dan di balik masalah ada solusi. Biarkan kakimu melangkah menuju kesuksesan hakiki”.

Untuk mewujudkan impian kita, terdapat rumus/formula dari Jurus Motisakti seperti di bawah ini.

H = (I x P x K)^T
H = Hasil (Terwujudnya Impian, Tercapainya yg diimpikan)
I = Impian
P = Pedoman
K = Kemampuan
T = Tawakal
tanda ^ = pangkat
tanda x = kali

Hasil (Terwujudnya Impian)
Kita semua tentunya ingin agar setiap impian kita dapat terwujud. Dengan kata lain, kita ingin agar kualitas nilai H (Terwujudnya Impian) kita setinggi mungkin.
Dari rumus di atas menunjukkan bahwa terwujudnya impian kita sangat bergantung dari 4 hal, yaitu : Bagaimana kualitas nilai Impian, Pedoman, Kemampuan, dan Tawakal kita.  Seberapa besar nilai I, P, K, dan T kita.

Misalkan :
Nilai I, P, T kita bagus, tapi K kita nol, tentu saja hasilnya akan nol.
Nilai I, P, K kita bagus, tapi T (Tawakal) kita kecil sekali, maka Hasilnya (H) tentu akan kecil.

IMPIAN (I)
Impian yang baik (kualitas nilainya tinggi) adalah impian yang jelas dan fokus, bernuansa dunia dan akherat, serta memberikan banyak manfaat bagi sebanyak mungkin orang (otomatis diri sendiri akan terkait didalamnya).

PEDOMAN (P)
Pedoman artinya “PEMAHAMAN KITA” tentang makna dan ikhtiar kesuksesan (usaha untuk sukses), maksudnya pemahaman kita tentang bagaimana dapat sukses dengan jalan yang benar.
Jadi pedoman adalah apa pun yang kita fahami dan yakini, dan apa pun yang ada dalam logika pikiran bawah sadar kita.

Nilai Pedoman yang maksimal dapat kita raih melalui pembelajaran hidup,misalnya melalui keluarga, pengalaman-pengalaman kita, lingkungan kita, orang-orang di sekitar kita, Al-Qur’an, as-Sunnah, sirah, juga buku-buku atau referensi yang berkualitas.
Semakin tinggi pemahaman kita, maka kualitas nilai P akan semakin tinggi, tentu saja H juga semakin tinggi.

KEMAMPUAN (K)
Kemampuan berbeda dengan Pedoman.
Jika pedoman bernuansa TEORI dan keilmuan, sedangkan kemampuan bernuansa AKSI dan pengalaman.

Kemampuan bermakna sudah sejauh mana kita memperjuangkan  pedoman yang kita yakini tersebut.  Maksudnya sudah sejauh mana kita melaksanakan, mengamalkan, menerapkan semua teori dan ilmu yang kita fahami dan yakini tsb.
Jadi Kemampuan adalah apa pun yang sudah kita KERJAKAN berdasarkan keyakinan kita (pedoman kita).

Untuk meningkatkan kemampuan kita, maka kita harus selalu beraksi (praktek) dan menambah skill, menambah pengetahuan, pemahaman dan keyakinan kita melalui berbagai pedoman kehidupan yang benar.

TAWAKAL (T)
Tawakal artinya menyerahkan semuanya kepada Allah.
Bertawakal yang baik tidak hanya diekspresikan setelah kita berusaha, tetapi meliputi keseluruhannya baik ketika AKAN, SEDANG, maupun SETELAH berusaha.

Allah berfirman  : 
“ . . . . .  apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” : Q.S. Ali 'Imran [3] ayat 159.

 “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Danbarangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. . . .” : Q.S. Ath-Talaq [65] ayat 3.

Jadi, yang namanya tawakal itu sudah dimulai sejak kita membulatkan tekad, yaitu sejak kita menetapkan impian-impian kita. Dan senantiasa bertawakal ketika kita sedang berusaha mengejar impian-impian itu, maupun setelah berusaha.

AKHIRNYA ….

Mohon diperhatikan rumus di atas dengan khidmat.

Ketika sebuah angka dikalikan dengan nol, maka hasilnya akan sama dengan nol. Artinya, walaupun kita memiliki impian yang bernilai tinggi, lalu diiringi oleh pedoman yang sangat hebat dan Islami. Tapi jika aksinya nol besar, maka hasilnya (nilai H) akan sama dengan nol, berarti impian tidak terwujud.

Kemudian, walaupun nilai  I, P, K baik, namun kita tidak “memangkatkannya” dengan nilai tawakal (T) yang tinggi, maka hasilnya tidak signifikan. Misalnya saja T=0, maka sebesar apa pun nilai I, P, K kita, maka hasilnya hanya 1.

Apalagi, jika nilai tawakal kita minus, maka hasilnya tidak akan pernah lebih dari 1, bahkan mendekati nol.
Nilai tawakal seseorang bisa menjadi minus, jika dia sudah menjadi pribadi yang sombong dan syirik. Karena dengan begitu dia telah salah dalam menggantungkan impian, pedoman dan kemampuannya pada sesuatu yang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

Namun, jika kita memiliki I, P, K, dan T yang bernilai positif, kita akan mendapatkan hasil positif pula. Semakin besar nilai I, P, K kita ditambah dengan nilai T yang lebih besar, makahasilnya akan luar biasa.

Perlu diingat bahwa kita akan sangat sulit bertawakal, jika I, P, K kia tidak maksimal. Sehingga , untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, kita harus berusaha keras memaksimalkan IMPIAN, PEDOMAN, dan KEMAMPUAN kita, serta memangkatkannya dengan tawakal kepada Allah. Dengan begitu, yakinlah hasilnya akan luar biasa.

Allah berfirman  : 
“ Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu;jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. Q.S. Ali 'Imran [3] ayat 160.

Semua tulisan di atas ini, jika kita fahami dengan benar, maka akan meningkatkan pengetahuan kita berarti meningkatkan pedoman (P) kita. Namun perlu diingat, kata-kata bijak berikut ini :

“Sejuta teori akan tumbang oleh satu aksi, maka selaraskanlah antara teori dan aksi”.

Jadi marilah kita ber-“aksi”, yaitu berbuat, berusaha keras untuk melakukannya,  tidak sekadar faham dan berteori.

Semoga bermanfaat.