Hot
Suatu saat seorang guru berusaha
untuk menjelaskan kepada sekelompok orang bagaimana orang-orang bereaksi
terhadap kata-kata, menelan kata-kata, hidup dalam kata-kata, ketimbang dalam
realitas.
Salah seorang dari kelompok itu
berdiri dan mengajukan protes, dia berkata, “Saya tidak setuju dengan
pendapat anda bahwa kata-kata mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri
kita.”
Guru itu berkata,” Duduklah, anak
haram!!!.”
Muka orang itu menjadi pucat
karena marah dan berkata,” Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah
mengalami pencerahan, seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi seharusnya
Anda malu dengan diri Anda sendiri.”
Kemudian Guru itu berkata,
“Maafkan saya, saya terbawa perasaan. Saya benar-benar mohon maaf, itu
benar-benar di luar kesadaran saya, saya mohon maaf.” Orang itu akhirnya
menjadi tenang.
Kemudian Guru berkata lagi,”hanya diperlukan beberapa kata untuk
membangkitkan kemarahan dalam diri anda; dan hanya diperlukan beberapa kata
untuk menenangkan diri anda, benar bukan?”
Pilihlah selalu kata-kata positif
dipikiran, dihati dan ucapan anda. Kata-kata mempengaruhi diri anda dan juga orang
lain.
Kata-kata yang ada dalam pikiran
dan hati anda juga menentukan masa depan dan sukses anda.
Arthur Ashe,
pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yang berasal dari darah yang
terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.
Dia menerima
surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yang menyampaikan:
"Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yang buruk seperti ini??"
"Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yang buruk seperti ini??"
Terhadapnya,
Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"
Jadi ketika
sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, "Kenapa
(harus) saya?"
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun
keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air
dengan ember & menyikat lantai rumahnya keras-keras.
Pria itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Sang
Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat.
Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak
puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya MERASA menjadi orang
yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini
untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Saudaraku.....,
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita
semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat pertama,
Sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua,
Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga,
Sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik....,
Semakin tinggi tingkat kesombongan, Semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Semakin tinggi tingkat kesombongan, Semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi
karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Cobalah setiap hari, kita memeriksa batin kita.
Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang
dalam.
Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda
yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
menceritakan semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu dia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya", ujar pak tua
"Pahit, pahit sekali", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk
berjalan ke tepi telaga.
Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya
lagi kepadanya,
"Bagaimana rasanya ?"
"Segar", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?"
tanya pak tua
"Tidak", sahut pemuda itu
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:
"Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, tergantung dari luas tidaknya hati/perasaan kita.
Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan, maka LAPANGKANLAH DADAMU menerima semuanya itu, LUASKANLAH HATIMU untuk menampung setiap kepahitan itu".
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:
"Hatimu adalah wadah itu; Perasaanmu adalah tempat itu; Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas;
Buatlah hatimu laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu;
Sehingga kepahitan itu menjadi tidak terasa dan tidak mempengaruhi kesegaran dan kedamaian hatimu".
Anak muda, belajarlah menerima kenyataan; Berlatihlah menerima kenyataan; Berlatihlah untuk ikhlas serta mensyukuri setiap kenyataan. Karena itulah yang terbaik bagimu. Dan latihan itu akan semakin memperluas daya tampung hatimu. Kalau kamu mau dan berusaha melatihnya terus-menerus, maka hatimu akan benar-benar seluas telaga. Dan kamu tidak pernah merasakan kepahitan lagi, apa pun keadaan dan masalahmu, hatimu akan tetap segar, damai, dan bahagia".
Dari Hari Budianto, Cibinong, Bogor.
Seorang sales asuransi
yang bekerjasama dengan W Clement stone dan orang tersebut sudah selama 5 tahun
berjualan di Sioux City, Iowa. Dan selama 5 tahun pula dia gagal jualan disana
dan dia beranggapan karena daerah tersebut kebanyakan dari keturunan Belanda
dan dia menganggap orang Belanda tersebut tidak percaya dengan orang diluar
Belanda dan tidak akan mau membeli dari mereka. Ini yang dinamakan Negative
Mental Attitude. Sales tersebut sudah punya keyakinan akan gagal sebelum jualan
dan itu yang terjadi.
Akhirnya W Clement Stone penasaran dan akan mencoba membuktikan
bahwa pemikiran itu salah. Lalu sepanjang perjalanan menuju Sioux Center, Iowa
W Clement Stone melakukan visualisasi dan memasukan kata-kata affirmasi yang
mengatakan "wah bagus, kalau mereka percaya sama orang yang satu suku
dengan mereka berarti saya harus mencari orang yang tepat untuk dijual sehingga
mereka menjadi percaya seluruhnya dan membeli dari kita. Dan dia terus
berdoa dan mengimani bahwa mereka pasti membeli dan terus berdoa Tuhan bantu saya dalam penjualan ini dan terus melakukan affirmasi berulang-ulang lalu akhirnya tertidur.
berdoa dan mengimani bahwa mereka pasti membeli dan terus berdoa Tuhan bantu saya dalam penjualan ini dan terus melakukan affirmasi berulang-ulang lalu akhirnya tertidur.
Setelah sampai disana,
beliau akhirnya masuk ke sebuah bank dan memprospek kepala cabang Bank tersebut
dan menariknya orang tersebut menandatangani kontrak pembelian tersebut begitu
juga dengan karyawannya. Hanya satu orang saja yang tidak membeli di Bank
tersebut. Lalu dia keliling ke pusat kota dan lagi-lagi orang pada membelinya.
Wow, beliau langsung bersyukur kepada Tuhan bahwa doanya terkabul dan apa yang
dia yakini ternyata berhasil. Ini yang disebut Positive Mental Attitude. Beliau
hanya melakukan affirmasi, visualisasi dan berdoa untuk melakukan sesuatu yang
berbeda. Ya betul, sales tersebut juga melakukan hal yang sama tetapi untuk
membuktikan bahwa dia gagal, ini yang disebut Negative Mental attitude.
Kembali lagi kepada
diri sendiri, apa yang anda mau percayai maka itu yang akan anda terima.
Bagaimana dengan anda?
Cashflow Quadrant digunakan untuk
mengukur sukses tidaknya seseorang secara MENTAL, bukan dari
profesinya.
Cashflow Quadrant mengelompokan mental
orang ke dalam 4 kuadran yaitu (lihat gambar):
1. Mental E = Employee.
2. Mental S = Self Employed.
3. Mental B = Business owner.
4. Mental I = Investor.
Di bawah sendiri diberikan penjelasan apa dan
bagaimana mental E, S, B, dan I tsb.
Mental entrepreneur ada di sisi kanan, yaitu mental B atau
I.
Mereka yang memiliki mental di kuadran
KIRI (S atau E) akan kurang sukses, sedangkan yang memiliki mental
di kuadran kanan (B atau I) akan sukses, apapun profesinya.
Cashflow Quadrant pertama kali diperkenalkan
oleh Robert T. Kiyosaki.
Kalau kita tidak membaca secara lengkap
seluruh buku-buku Robert T. Kiyosaki, juga tidak membaca berbagai referensi
lainnya. Maka kita akan terjebak dalam pemahaman yang tidak tepat,
sehingga beranggapan bahwa kuadran itu mengenai PROFESI seseorang.
Misalkan profesi Dokter, Pengacara, Notaris,
Musisi, Pelukis, dsb, dianggap berada di Kuadran “S” (Self Employed),
padahal tidak demikian. Penggambaran profesi itu hanya untuk
memudahkan pemahaman awal dari pembacanya.
Pemahaman sesungguhnya adalah, bila seorang
pengacara atau dokter tsb memiliki MENTAL “S” (Self Employee), maka
pengacara/dokter itu akan lebih sukses dibandingkan pengacara/dokter yang
memiliki mental “E” (Employee).
Kalau pengacara/dokter itu memiliki mental “B”
akan lebih sukses lagi, dan pasti akan sangat sukses bila memiliki mental
tertinggi yaitu mental “I”.
Jadi yang dimaksud E, S, B, I itu adalah
MENTAL-nya bukan PROFESI-nya.
Contoh mudahnya adalah “Tanri Abeng”,
beliau selama ini jelas-jelas sebagai pekerja/karyawan, namun beliau memiliki
mental “I” (Investor). Maka tentu saja beliau sukses luar biasa.
Contoh lainnya : “Sri Mulyani”, beliau
sekarang khan karyawannya Bank Dunia (jabatannya Kepala Eksekutif II). Namun
beliau memiliki mental “I”, tentu saja sangat sukses.
Contoh lain lagi : “Penjual bakso keliling”,
dia seorang wiraswasta. Namun kalau mentalnya adalah mental “E”
(Employee), maka usaha baksonya sulit untuk berkembang, dan akan tetap
seperti itu, yaitu sebagai penjual bakso keliling. Jika berusaha meningkatkan
mentalnya menjadi mental “S” (Self Employed), maka usaha baksonya bisa
berkembang walaupun perkembangannya lambat, sehingga pelanggannya banyak,
omsetnya bertambah.
Jika dia berusaha keras meningkatkan
mentalnya sehingga memiliki mental “B” (Business Owner), maka usaha
baksonya akan berkembang dengan cepat dan mampu membuka lapangan kerja, mampu
membentuk tim, mampu mensejahterakan banyak orang, dstnya. Dia akan memiliki
beberapa restoran bakso, juga banyak unit bakso keliling, dstnya.
Yang terpenting adalah mentalnya bukan
profesinya.
Apapun profesi anda, tingkatkan mental anda.
Apakah anda sebagai karyawan, atau sedang
wiraswasta, atau berprofesi pengacara, notaris, dokter, dsb, tingkatkan mental
anda.
Berusaha keraslah melatih diri agar mental
anda meningkat, yang mula-mula bermental E, meningkat menjadi bermental S,
kemudian B, dan akhirnya bermental paling tinggi yaitu I.
Semakin meningkat mental anda, apapun
profesinya, maka otomatis akan semakin sukses.
Kalau anda masih memiliki mental “E” atau “S”,
maka apapun profesi anda, tentu tidak begitu sukses.
Namun kalau anda sudah memiliki mental
“B” atau “I”, maka apapun profesi anda, tentu otomatis sukses. Kalau
anda berwiraswasta, maka anda menjadi wiraswastawan yang sukses. Kalau anda
seorang karyawan, maka pasti anda karyawan yang sukses, karena memiliki mental
“B” atau “I”.
Jadi berusaha keraslah meningkatkan diri dengan
menambah pengetahuan, pengalaman, dan melatih diri, sehingga mentalnya
meningkat dan berada di kuadran “Kanan (B atau I)”.
Semoga bermanfaat.
Tambahan :
Menanggapi beberapa komentar, disini perlu
dijelaskan seperti apa mental E, S, B, I itu, sbb :
Mental E (Employee) :
§
Enggan meningkatkan diri
§
Tidak mampu menunda kenyamanan.
§
Menunggu disuruh
§
Kurang Inisiatif
§
Berusaha bekerja cerdas saja alias malas
§
Kalau menjadi atasan, cenderung ngebos (tidak me-manage)
§
Cenderung memikirkan dirinya sendiri
§
dsb
Mental S (Self Employed) :
§
Setingkat lebih baik dibandingkan mental E.
§
Mampu menunda kenyamanan.
§
Berusaha meningkatkan diri.
§
Berusaha berinisiatif.
§
Berusaha bekerja keras dan cerdas.
§
Mampu bekerja mandiri, namun sulit bekerja dalam tim.
§
Tidak mampu mendelegasikan pekerjaan.
§
Kalau menjadi atasan, kurang mampu mengelola dan tidak mampu
mengajari/mendidik bawahannya sehingga berakibat tidak tercipta kerja tim yang
bersinergi.
§
Cenderung memikirkan kesuksesan dirinya sendiri.
§
dsb
Mental B (Business owner) :
§
Setingkat lebih baik dibandingkan S.
§
Mampu menunda kenyamanan.
§
Berusaha keras meningkatkan diri
§
Berusaha keras berinisiatif
§
Berusaha bekerja keras dan cerdas
§
Mampu bekerja mandiri dan mampu bekerja dalam tim
§
Mampu mendelegasikan pekerjaan (dalam arti segala sesuatunya
tetap berjalan dengan baik, walau pun dirinya tidak ada untuk sementara waktu).
§
Kalau menjadi atasan, mampu mengelola dengan baik, dan mampu
mengajari/mendidik bawahannya sedemikian rupa sehingga tercipta kerja tim yang
bersinergi dan berkembang.
§
Mampu memimpin tim dan mengontrol tim terus-menerus sehingga
dapat mencapai sasaran/tujuan timnya.
§
Cenderung memikirkan kesuksesan bawahannya, atasannya,
koleganya, timnya, dsb, dibandingkan memikirkan kesuksesan dirinya sendiri.
§
Senantiasa berusaha agar segala sesuatunya tidak bergantung pada
dirinya atau pada person/orang, melainkan bergantung pada sistem.
§
Jujur, dermawan, rendah hati, dan amanah (bertanggung jawab)..
§
dsb
Mental I (Investor) :
§
Setingkat lebih baik dibandingkan B.
§
Semua yang ada di B juga ada pada I, ditambah dengan mampu
menciptakan/membentuk sistem (software, hardware, dan humanware) sedemikian
rupa sehingga sistem tersebut dapat berjalan dan berkembang sendiri.
Berusaha dan berlatihlah sedemikian rupa
sehingga minimal memiliki mental B. Karena, begitu kita memiliki mental B,
otomatis kita akan sukses, apa pun pekerjaan kita, apa pun profesi kita.
Semoga bermanfaat.
Referensi
artikel ini adalah buku berjudul
“MOTISAKTI, motivasi yang bikin kamu
sakti”ditulis oleh Zen el-Fuad, Motivator Sinergi Semesta. Di
depan buku itu tertulis kata-kata bijak begini : “Tetaplah
bergerak, sebab di balik frustasi ada prestasi, dan di balik masalah ada
solusi. Biarkan kakimu melangkah menuju kesuksesan hakiki”.
Untuk
mewujudkan impian kita, terdapat rumus/formula dari Jurus Motisakti seperti di
bawah ini.
H =
(I x P x K)^T
H = Hasil
(Terwujudnya Impian, Tercapainya yg diimpikan)
I =
Impian
P =
Pedoman
K =
Kemampuan
T =
Tawakal
tanda ^ = pangkat
tanda x = kali
Hasil
(Terwujudnya Impian)
Kita
semua tentunya ingin agar setiap impian kita dapat terwujud.
Dengan kata lain, kita ingin agar kualitas nilai H (Terwujudnya
Impian) kita setinggi mungkin.
Dari
rumus di atas menunjukkan bahwa terwujudnya impian kita sangat
bergantung dari 4
hal, yaitu : Bagaimana kualitas nilai Impian, Pedoman, Kemampuan, dan Tawakal
kita. Seberapa
besar nilai I, P, K, dan T kita.
Misalkan
:
Nilai
I, P, T kita bagus, tapi K kita nol, tentu saja hasilnya akan nol.
Nilai
I, P, K kita bagus, tapi T (Tawakal) kita kecil sekali, maka Hasilnya (H) tentu
akan kecil.
IMPIAN
(I)
Impian
yang baik (kualitas nilainya tinggi) adalah impian yang jelas
dan fokus, bernuansa dunia dan akherat, serta memberikan
banyak manfaat bagi
sebanyak mungkin orang (otomatis diri sendiri akan terkait didalamnya).
PEDOMAN
(P)
Pedoman
artinya “PEMAHAMAN KITA” tentang makna dan
ikhtiar kesuksesan (usaha untuk sukses), maksudnya pemahaman kita tentang bagaimana
dapat sukses dengan jalan yang benar.
Jadi
pedoman adalah apa pun yang kita fahami dan yakini, dan apa pun yang ada dalam
logika pikiran bawah sadar kita.
Nilai
Pedoman yang maksimal dapat kita raih melalui
pembelajaran hidup,misalnya melalui keluarga,
pengalaman-pengalaman kita, lingkungan kita, orang-orang di sekitar kita,
Al-Qur’an, as-Sunnah, sirah, juga buku-buku atau referensi yang berkualitas.
Semakin
tinggi pemahaman kita, maka kualitas nilai P akan semakin tinggi, tentu saja H
juga semakin tinggi.
KEMAMPUAN
(K)
Kemampuan
berbeda dengan Pedoman.
Jika pedoman
bernuansa TEORI dan keilmuan, sedangkan kemampuan
bernuansa AKSI dan pengalaman.
Kemampuan
bermakna sudah sejauh mana kita
memperjuangkan pedoman yang kita yakini tersebut. Maksudnya sudah
sejauh mana kita melaksanakan, mengamalkan, menerapkan semua teori dan ilmu
yang kita fahami dan yakini tsb.
Jadi
Kemampuan adalah apa pun yang sudah kita KERJAKAN berdasarkan keyakinan kita (pedoman kita).
Untuk
meningkatkan kemampuan kita, maka kita harus selalu beraksi (praktek) dan menambah skill, menambah
pengetahuan, pemahaman dan keyakinan kita melalui berbagai pedoman kehidupan
yang benar.
TAWAKAL
(T)
Tawakal
artinya menyerahkan semuanya kepada Allah.
Bertawakal
yang baik tidak
hanya diekspresikan setelah kita berusaha, tetapi meliputi keseluruhannya
baik ketika AKAN, SEDANG, maupun SETELAH berusaha.
Allah
berfirman :
“ .
. . . . apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” : Q.S. Ali
'Imran [3] ayat 159.
“Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Danbarangsiapa
yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. . .
.” : Q.S. Ath-Talaq [65] ayat 3.
Jadi,
yang namanya tawakal itu sudah dimulai sejak kita
membulatkan tekad, yaitu sejak kita menetapkan
impian-impian kita. Dan senantiasa bertawakal ketika kita
sedang berusaha mengejar impian-impian itu, maupun setelah berusaha.
AKHIRNYA
….
Mohon
diperhatikan rumus di atas dengan khidmat.
Ketika
sebuah angka dikalikan dengan nol, maka hasilnya akan sama dengan nol. Artinya,
walaupun kita memiliki impian yang bernilai tinggi, lalu diiringi oleh pedoman
yang sangat hebat dan Islami. Tapi jika aksinya nol besar, maka
hasilnya (nilai H) akan sama dengan nol, berarti impian tidak terwujud.
Kemudian,
walaupun nilai I, P, K baik, namun kita tidak “memangkatkannya” dengan
nilai tawakal (T) yang tinggi, maka hasilnya tidak signifikan. Misalnya saja
T=0, maka sebesar apa pun nilai I, P, K kita, maka hasilnya hanya 1.
Apalagi,
jika nilai tawakal kita minus, maka hasilnya tidak akan pernah lebih dari 1,
bahkan mendekati nol.
Nilai
tawakal seseorang bisa menjadi minus, jika dia sudah menjadi pribadi yang
sombong dan syirik. Karena dengan begitu dia telah salah dalam menggantungkan
impian, pedoman dan kemampuannya pada sesuatu yang lain. Na’udzu
billahi min dzalik.
Namun,
jika kita memiliki I, P, K, dan T yang bernilai positif, kita akan mendapatkan
hasil positif pula. Semakin besar nilai I, P, K kita ditambah dengan nilai T
yang lebih besar, makahasilnya
akan luar biasa.
Perlu
diingat bahwa kita akan sangat sulit bertawakal,
jika I, P, K kia tidak maksimal. Sehingga , untuk mendapatkan
hasil yang luar biasa, kita harus berusaha keras memaksimalkan IMPIAN, PEDOMAN,
dan KEMAMPUAN kita, serta memangkatkannya dengan tawakal kepada Allah. Dengan
begitu, yakinlah hasilnya akan luar biasa.
Allah
berfirman :
“ Jika Allah menolong kamu,
maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu;jika
Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan),
maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah
itu? Karena
itu hendaklah
kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. Q.S. Ali 'Imran [3] ayat
160.
Semua
tulisan di atas ini, jika kita fahami dengan benar, maka akan meningkatkan
pengetahuan kita berarti meningkatkan pedoman (P) kita. Namun perlu diingat,
kata-kata bijak berikut ini :
“Sejuta
teori akan tumbang oleh satu aksi, maka selaraskanlah antara teori dan aksi”.
Jadi marilah
kita ber-“aksi”, yaitu berbuat, berusaha keras untuk melakukannya, tidak
sekadar faham dan berteori.
Semoga
bermanfaat.

.jpg)
.jpg)
.jpg)



